07 December 2007

kugerakkan langkah kaki dimana cinta akan bertumpu...

hingga saatnya kami meledak seperti menabrak bongkahan besar ditanah, tiba2 saja hitam menyelimuti penglihatanku, kejadian ini terjadi beberapa detik, hitam ini seperti mimpi, ku lupa semuanya, kulupa sesaat tapi kumasih ingat namaku, tiba2 cahaya sedikit2 menusuk mataku, menyapaku untuk membuka mata, samar2 kulihat sayap yang robek, roda yang patah, sepatu2 yang hilang sebelah dan kursi2 pesawat yang terbakar, aku masih tak percaya aku masih hidup, perlahan kuberdiri dan berteriak, apa ini tuhan?, apa?, apa yang terjadi?, celanaku sobek dan menghitam seperti terbakar, bajuku penuh darah yang mengalir dari dadaku, kusadar ini bukan mimpi, semua musnah semua terbakar, saat ini ku berada di hutan yang gelap, dingin, sunyi, hanya terlihat segaris cahaya dibawah daun yang menampakkan anggunnya asap dibalik cahaya, hentakan itu dahsyat, hentakan itu cepat, aku sempat lupa bahwa aku masih ada, sekarang ku menyepi melihat semua ini, melihat bangkai pesawat yang terbakar hatiku lirih, melihat mayat-mayat yang berjatuhan hatiku pilu, kemudian ku pelan meninggalkan semuanya tuk mencari tempat tuk melupakan semua, kemudian terdengar seseorang memanggilku dari belakang, “tolong...tolong...” siapa gerangan dirinya? Tak sekalipun pernah ku mendengar suara sedari tadi, Ternyata aku tak sendiri di hutan ini, akupun berbalik tuk mencari darimana asal suara itu, dengan kaki yang masih lemah ku mencari, dengan segenggam cahaya aku berbekal, dengan segenap raga kuberlari, berharap bisa menolong ia yang lemah tak berdaya, kuyakin belum terlambat, karena kuyakin akan ada pintu yang terbuka tuk menyelamatkannya, dibalik bangkai pesawat yang terbelah dua banyak asap yang menutupi suara itu berasal, saat ku masuki bangkai pesawat itu ternyata luna masih ada dibangkunya sambil menangis berteriak minta tolong, ia terjepit oleh kursi kursi yang rusak karena ledakan, “mama....mama...”teriak luna, aku hanya bingung bagaimana caranya menyelamatkan luna dari jepitan kursi pesawat ini, kakinya lemah dan banyak mengeluarkan darah akibat terjepit, kubergegas mencari cara untuk mengeluarkan ia dari kepedihan yang dirasakannya, badai angin topan menghempas sampai kapan kau berakhir???, apakah ini adalah akhir dari tempat ku berpijak?, selamatkanlah ia tuhan..., kita mungkin terluka dan bisa mati tapi ku takkan pernah menyalahkan hidup, tapi kutakkan berhenti menyerah, kupersiapkan hati dan kupersiapkan jiwa atas segala yang pernah kulalui saat ini, dengan sebatang pipa yang panjang kuungkit semua yang menghimpit diri luna, kuharap ia bisa bebas dan terbang, akhirnya semua berakhir telah, ia pun masih lemah dan tak berdaya, ku gapai tubuh luna yang masih lemas, kemudian ku coba untuk memindahkannya ke tempat yang lebih aman, didalam perjalanan luna selalu menyebut kata mama, “tenang luna sebentar lagi kita akan segera sampai disungai, untuk membasuh semua lukamu” jawabku pelan, luna terlihat lunglai didalam timanganku, “mama....mama....” teriak luna lebih kencang, ku tak percaya selama hidup sepanjang usiaku tak sekalipun pernah ku membayangkan wujudnya ada dan mendekap dalam timanganku, kugerakkan langkah kaki dimana cinta akan bertumpu, kucoba mengejar rinduku, meski peluh membasahi tanah, lelah penat tak menghalangiku tuk menemukan bahagia, membayangkan itu akupun mencoba mengerti sedikit tentang perasaan itu, pernah terkabulkan oleh pilu kepedihan, mungkin aku salah mengartikan semua ini, karena ini adalah sesuatu yang ingin kumiliki, tetapi mungkin ini hanyalah khayalanku saja, yang penting saat ini adalah akubisa menyelamatkan ia sekarang, sesampainya disungai aku basuh lukanya hingga bersih, lunapun lemah menahan perih, tak kupercaya sungguh, saat ini kubisa berada disini berdua dengannya, “aku ada dimana?” tanya luna dengan kepala menatap langit, “aku juga tidak tahu luna, sebentar lagi gelap, lebih baik kamu tunggu disini sebentar ya...”, “aku akan kembali ke pesawat untuk mengambil barang-barang yang mungkin bisa berguna untuk kita melanjutkan hidup disini”, disana kukumpulkan barang-barang yang mungkin bisa untuk menyelamatkan kita berdua di belantara ini, ada parasut, ada beberapa bungkus biskuit yang tercecer dimana-mana, sekarang hari sudah malam, sekarang aku disini masih bersamanya yang masih bingung akan apa yang terjadi sudah, api unggun yang aku nyalakan tadi lama2 perlahan meredup berganti bara kayu yang berpendar merah terang, hanya diam dan diam yang ada saat ini, sedikit kulihat lingkaran bulan yang tertutup oleh dedaunan pohon yang hitam, bingung mengapa ini bisa terjadi, kita berdua menghadap cahaya api unggun yang menyala tenang, duduk diatas parasut yang tadi kuambil, kucoba tuk menyapa luna yang sedih, “luna....?”, lunapun hanya diam dan matanya berkaca oleh api yang menyala, semua hening..., hanya suara burung hantu dan suara air sungai yang mengalir dimalam hari, masih seperti tadi luna hanya diam dan menangis sambil menusuk2an sebatang kayu panjang ke dalam bara api, sepertinya ia kesal, tetapi kenyataannya aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati, kuhanya pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya, kupikir jika ia bersedih pastilah ini ada maksudnya, andai ia bisa tertawa seharusnya ia bahagia, tak perlu engkau bersedih luna sudahi saja tangismu, tetapkan hati berjuang bersamaku saat ini, akupun tertidur meninggalkan luna yang masih duduk disana, kulayangkan jauh mata memandang tuk melanjutkan mimpi yang terputus, ku tidur berselimutkan parasut besar yang hangat untukku tidur, kutidur hingga lelap meninggalkan kelam, meninggalkan semua yang indah walau beralaskan kepedihan, meski kau tlah berlalu tapi semua ini masih ada dimimpiku, sesaat dimimpiku kulihat jelas ledakan tadi yang menghancurkan pesawatku, “dhaaar....” hingga ku tersentak dan terbangun, akupun langsung bangun dan kaget, saat bangun disampingku terlihat luna yang masih pulas terjaga oleh bintang, akupun tersenyum melihat wajahnya yang damai, dipelupuk mataku menginginkannya, dipusara jiwaku sebenarnya pernah kumiliki kisah tersembunyi akan dirinya, dirinya yang saat ini tampak bersinar dihadapanku, mengapa..... kau harus datang disini luna? mengapa malam ini?.....mengapa luna? tak bisa aku hindari, maafkan..... bila ku mencuri dirimu, apapun yang terjadi kau tahu sebenarnya hidupku sudah menyenangkan saat melihatmu terjaga, cukup sudah ku berbahagia, tetapi tak sepantasnya aku menyimpan perasaan disatu tanganku yang lain,

lalu kemudian.....


tiba2 luna mengigau dalam mimpinya....


dan berteriak....


“ariel...ariel....”,


hmm....malesss......


cape deh.


Sekian.


By : Mr So sweet balabala

No comments:

Post a Comment

Jangan Ragu untuk Berkomentar... Ayo kamu bisa....