22 May 2014

Quarter Life Crisis

Tulisan ini diambil dari kaskus :
Darurat bencana banjir di Jakarta akhir pekan lalu membuat saya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di rumah. Memanfaatkan waktu luang yang ada, saya pun iseng mengintip rak buku yang ada di samping ruang kerja di rumah. Sudah lama rak itu tidak tersentuh, meskipun bagian atasnya selalu dibersihkan dari debu, namun buku-buku yang ada di bawahnya seperti diam membisu, menyimpan cerita. Jemari tanganpun gatal ingin melihat lagi jejeran buku yang ada di situ, dan tiba-tiba hati kecil saya tersenyum saat menemukan skripsi, laporan kerja magang, dan beberapa lembar catatan tesis pasca sarjana yang hingga detik ini belum terselesaikan. Kertas-kertas itu juga saksi perjalanan hidup saya. Pikiran pun melesat mundur ke beberapa tahun silam, ketika saya merasakan titik kehancuran dalam hidup. Bagi yang telah menapak usia lebih dari seperempat abad, mungkin fase kehancuran diri itu juga pernah Anda rasakan. Sebagian orang dan psikolog mengenal krisis itu dengan sebutan quarter life crisis.


Dalam konsep sederhana, sebut saja itu fase krisis di saat seseorang mencari jati diri yang sesungguhnya. Saya ingat betul, di kala krisis itu menerpa, pikiran saya gamang, gelisah, dan tak tentu arah. Rupanya hal itu bukan saya saja yang mengalaminya. Dalam suatu perbincangan di rumah sahabat beberapa tahun silam, seorang teman saya bahkan sempat mengungkapkan bunuh diri adalah pilihan paling tepat saat itu. Untungnya ia melontarkan ucapan konyol itu sambil tertawa, dan kini saya mengenalnya sebagai salah satu penerus usaha keluarganya di bidang pertambangan. "Gue enggak tau mau ngapain sekarang. Gue bingung, bokap gue udah sakit-sakitan, sementara kakak gue yang paling tua udah enggak mungkin diharapin. Dia jauh lebih ancur dari gue dan nyokap gue maksa gue untuk nerusin apa yang bokap gue udah jalanin nantinya. Enggak ada yang bisa ngerti posisi gue sekarang. Mungkin loe liat keluarga gue punya semuanya, tapi hidup gue kosong. Gue enggak tau harus ambil keputusan apa. Bahkan kalau gue mati sekarang juga kayaknya enggak bakal ada yang nangisin gue. This is the lowest point in my life dan enggak ada yang bisa nolongin gue." Rekaman perbincangan tadi begitu melekat dalam memori saya sampai saat ini. Bahkan sampai sekarang, jika bertemu teman saya itu, saya masih suka menertawakan obrolan masa lalu tadi. Meskipun ayahnya memang telah wafat dua tahun lalu, tapi kini saya melihat sosok pria yang begitu bijak dan matang pada dirinya. Wajah murung anak orang kaya yang merasa tidak mempunyai apa-apa dan tidak sadar akan segala keberuntungannya seolah sirna dari raut mukanya. Ia pun menyadari, quarter life crisis adalah kunci bagi dirinya untuk menemukan bekal hidup di masa depan. Yang Anda butuhkan adalah peringatan dan persiapan Quarter life crisis tidak akan datang layaknya ujian semester yang sudah terjadwal jelas di pengumuman.

Datangnya begitu lembut dan Anda pun tidak akan menyadari jika krisis itu mulai menampar diri. Tanpa perlu harus bersikap paranoid, gejala yang akan dirasakan ketika quarter life crisis tiba adalah perasaan murung dan mendadak Anda seperti hilang arah. Jangan panik, bila Anda merasa hidup betul-betul hancur, nikmati kehancuran itu. Keluarkan semua kegelisahan, jangan dipendam. Justru dengan memendam perasaan, otak akan semakin kalut dan sulit berpikir. Kehancuran adalah pembelajaran Saya percaya bila setiap manusia dianugerahi satu karunia yang disebut nurani. Dalam melewati fase quarter life crisis, tak jarang keputusan mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri akan membuat orang lain memberi perhatian pada diri Anda. Sayangnya, tidak sama sekali. Di sinilah orang di sekitar (terutama orang tua) ingin melihat sejauh mana ketahanan diri yang Anda miliki untuk melalui itu semua. Jangan kecewakan mereka dengan membuat drama konyol seperti memotong urat nadi, menenggak racun serangga, atau overdosis akibat narkoba. Itu artinya Anda kalah, dan maaf, Anda tidak lulus pada ujian quarter life crisis.

bener banget nih artikel.... sukaaaa....
SUMBER : http://kask.us/hGh1D

No comments:

Post a Comment

Jangan Ragu untuk Berkomentar... Ayo kamu bisa....